Menu

Mode Gelap

Daerah · 26 Jun 2026 20:47 WITA

LSB Karuwisi Teguhkan Harmoni Adat dan Agama Lewat Tradisi Peca Barakka 10 Muharram


 LSB Karuwisi Teguhkan Harmoni Adat dan Agama Lewat Tradisi Peca Barakka 10 Muharram Perbesar

MAROS, 26 Juni 2026 – Lembaga Seni Budaya (LSB) Karuwisi Kabupaten Maros terus berupaya melestarikan tradisi bulan Muharram melalui Peca Barakka 10 Muharram sebagai bagian dari ritual keagamaan yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dan budaya lokal masyarakat Makassar dan Bugis. Tradisi tersebut dilaksanakan sebagai bentuk syukur atas nikmat dan keberkahan Allah SWT sekaligus sebagai media pendidikan karakter sosial dan spiritual masyarakat.

Hal tersebut terungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Badaruddin Daeng Latte, guru dan pemerhati budaya Maros, melalui wawancara dengan S. Muhammad Nur Assaqqaf Puang Cora, Pendiri dan Ketua LSB Karuwisi.

Menurut Puang Cora, pelaksanaan Peca Barakka merupakan upaya menjaga keberlangsungan tradisi keagamaan yang telah diwariskan secara turun-temurun, sekaligus menyesuaikannya dengan kebutuhan masyarakat masa kini.

“Untuk awal ini di lembaga kami tidak ada hal yang spesifik membedakan Peca Barakka dan peca pada umumnya. Cuma pada momen ini kami menambahkan syiar Islamnya melalui tausiah agar lebih bisa dimaknai. Di mana arah agama harus kita jaga dan akar budaya harus pula kita jaga di era modern ini,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa Peca Barakka dilaksanakan bukan hanya sebagai kegiatan seremonial, melainkan sebagai sarana memperkuat pemahaman masyarakat terhadap makna bulan Muharram. Karena itu, rangkaian kegiatan yang dilaksanakan tidak hanya berfokus pada pembagian makanan, tetapi juga mencakup tausiah keagamaan, pembacaan doa tolak bala, dan pembagian Peca Syurah atau Bubur Muharram kepada masyarakat.

Berdasarkan hasil penelitian, salah satu ciri khas pelaksanaan Peca Barakka di LSB Karuwisi adalah penyajian bubur nasi Muharram yang dihiasi dengan berbagai buah-buahan lokal. Sajian tersebut menjadi simbol rasa syukur atas hasil bumi sekaligus menggambarkan kedekatan masyarakat dengan lingkungan alam yang menjadi sumber kehidupan mereka.

Tradisi ini juga memiliki dimensi spiritual yang kuat. Menurut Puang Cora, pelaksanaan Peca Barakka tidak dapat dipisahkan dari upaya mengingat sejarah dan hikmah yang terkandung dalam peristiwa-peristiwa penting pada bulan Muharram. Salah satunya adalah kisah keselamatan Nabi Nuh A.S. setelah banjir besar yang menjadi simbol syukur, keselamatan, dan harapan akan keberkahan.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat terlibat secara aktif mulai dari persiapan bahan, proses memasak, hingga pembagian bubur kepada warga. Semangat gotong royong tersebut mencerminkan nilai budaya Makassar dan Bugis yang dikenal dengan konsep Sipakatau atau saling memanusiakan sesama manusia.

Selain itu, kegiatan tausiah dan doa bersama menjadi wujud nilai Sipakainga, yaitu budaya saling mengingatkan dalam kebaikan. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diajak untuk tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga memperkuat pemahaman keagamaan sebagai landasan kehidupan bermasyarakat.

Hasil penelitian Badaruddin Daeng Latte menunjukkan bahwa Peca Barakka memiliki relevansi yang kuat dengan pendidikan karakter generasi muda. Tradisi ini mengajarkan nilai gotong royong, kepedulian sosial, rasa syukur, penghormatan terhadap budaya, serta pentingnya menjaga hubungan dengan sesama manusia dan dengan Allah SWT.

Di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi, keberadaan tradisi seperti Peca Barakka dinilai penting sebagai sarana pewarisan nilai-nilai budaya dan spiritual kepada generasi muda. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga membangun kesadaran bahwa budaya dan agama dapat berjalan beriringan dalam membentuk kehidupan yang harmonis.

Badaruddin Daeng Latte memberikan apresiasi terhadap kreativitas dan inisiatif LSB Karuwisi dalam mengembangkan model pelestarian budaya yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Menurutnya, langkah yang dilakukan lembaga tersebut menunjukkan adanya kesadaran organisasi dan peran aktif pemuda dalam menjaga keberlanjutan tradisi yang menjadi identitas masyarakat Sulawesi Selatan.

“Upaya yang dilakukan LSB Karuwisi patut diapresiasi karena tidak hanya mempertahankan tradisi yang sudah ada, tetapi juga memberikan penguatan makna melalui syiar Islam. Ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus berhenti pada bentuk ritual semata, tetapi dapat dikembangkan menjadi ruang edukasi, dakwah, dan pembentukan karakter generasi muda,” ungkap Badaruddin.

Ia menambahkan bahwa keterlibatan organisasi kepemudaan dan komunitas budaya dalam kegiatan semacam ini menjadi modal sosial yang sangat penting bagi Kabupaten Maros. Melalui kegiatan berbasis budaya dan keagamaan, generasi muda memperoleh ruang untuk belajar tentang sejarah, nilai-nilai sosial, kepemimpinan, gotong royong, dan identitas budaya daerahnya.

Menurutnya, Peca Barakka merupakan contoh bagaimana warisan budaya dapat tetap hidup karena adanya kesadaran kolektif masyarakat untuk merawat, melestarikan, dan mengembangkannya sesuai dengan kebutuhan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya.

Bagi LSB Karuwisi, pelestarian Peca Barakka merupakan bagian dari tanggung jawab budaya untuk menjaga akar tradisi sekaligus memperkuat syiar Islam di tengah masyarakat. Tradisi ini menjadi bukti bahwa kearifan lokal tetap memiliki tempat dan makna penting dalam kehidupan masyarakat modern serta dapat menjadi inspirasi bagi gerakan pelestarian budaya lainnya di Kabupaten Maros.

  • Lp: Rizal
Artikel ini telah dibaca 10 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Satu Kelurahan Masuk Zona Merah, Camat Tinggimoncong Ajak Semua Pihak Jaga Generasi Muda

25 Juni 2026 - 20:14 WITA

Gedung Baru Berdiri, Jalan Rusak Jadi Sorotan Warga

17 Juni 2026 - 22:48 WITA

Nama Lain Muncul dalam Sorotan Gudang Oli di Kawasan Pergudangan

14 Juni 2026 - 17:09 WITA

Truk Pengangkut Babi Melintas di Jalan Mayor Alianyang Menuju Sungai Ambawang, Pengendara Keluhkan Bau Menyengat

12 Juni 2026 - 00:33 WITA

Gunungan Arang Bakau di Gudang Kota Baru Ujung Jadi Sorotan, Aparat Diminta Periksa Legalitas dan Asal Usul Stok

1 Juni 2026 - 18:34 WITA

Dari Oli Bekas Menjadi “Solar”: Dugaan Aktivitas Illegal di Jungkat yang Kini Disorot Aparat

18 Mei 2026 - 17:08 WITA

Trending di Daerah