Makassar, CNN Celebes — Peredaran oli yang diduga merupakan produk oplosan kembali menjadi sorotan di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Produk yang tidak memenuhi standar tersebut dilaporkan masuk melalui jalur distribusi yang dinilai minim pengawasan, memicu keresahan di kalangan masyarakat, khususnya pengguna kendaraan bermotor.
Selain berpotensi merugikan secara ekonomi, penggunaan oli yang tidak sesuai standar juga dinilai membahayakan keselamatan. Produk oplosan dikhawatirkan dapat merusak mesin kendaraan, menurunkan performa, hingga meningkatkan risiko kecelakaan di jalan.
Sejumlah pihak pun mendesak otoritas terkait, termasuk pengelola pelabuhan dan aparat penegak hukum, untuk segera memperketat pengawasan terhadap arus keluar-masuk barang, terutama komoditas yang berdampak langsung terhadap keselamatan publik.
“Ini bukan sekadar pelanggaran biasa, tapi menyangkut keselamatan masyarakat. Kalau oli oplosan terus beredar bebas, dampaknya bisa luas,” ujar seorang pemerhati perlindungan konsumen di Makassar.
Informasi mengenai praktik ini juga diungkap oleh seorang pria berinisial SL yang mengaku pernah terlibat dalam jaringan distribusi tersebut. Ia menyebut peredaran oli oplosan telah berlangsung cukup lama dan terorganisir, bahkan menggunakan merek tertentu, salah satunya disebut “Kim”.
Menurut SL, produk tersebut dikirim dari Jakarta ke Makassar melalui jalur laut. Dalam sepekan, pengiriman bisa mencapai dua kontainer dan langsung didistribusikan ke pasar setibanya di lokasi.
“Barang cepat sekali habis. Dalam seminggu biasanya sudah tidak ada lagi di gudang,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa perbedaan antara produk asli dan oplosan sebenarnya dapat dikenali oleh pihak yang memahami distribusi oli, di antaranya melalui perbedaan barcode dan kualitas isi kemasan.
“Kalau sudah biasa di bidang ini, perbedaannya kelihatan. Barcode-nya beda, kualitas isinya juga tidak sama,” katanya.
Namun, bagi masyarakat umum, membedakan produk asli dan palsu bukan perkara mudah. Minimnya informasi serta luasnya distribusi membuat banyak konsumen berpotensi menjadi korban tanpa menyadarinya.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat, mengingat oli merupakan komponen penting dalam menjaga performa dan keamanan kendaraan. Jika tidak ditangani serius, peredaran produk ilegal ini juga berpotensi merusak kepercayaan konsumen dan mengganggu iklim usaha yang sehat.
Warga pun berharap adanya langkah konkret dari pihak berwenang, mulai dari penelusuran jalur distribusi hingga penindakan tegas terhadap pihak yang terlibat.
“Jangan sampai masyarakat terus dirugikan. Harus ada langkah nyata agar peredaran seperti ini bisa dihentikan,” ujar seorang warga.
Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai dugaan tersebut. Namun, desakan publik terus menguat agar kasus ini segera diusut secara transparan dan menyeluruh.
Kasus ini menjadi pengingat penting akan perlunya pengawasan ketat terhadap distribusi barang yang berkaitan langsung dengan keselamatan masyarakat, serta penegakan hukum yang tegas untuk mencegah praktik serupa terulang kembali.









